By. Rien

Sejauh mata memandang, hanya hamparan laut biru yang kulihat. Belum ada kapal yang merapat sedari pagi.
Apakah penantianku hari ini masih saja sia-sia?

“Kamu datang lagi Upik? kepiting yang sedang bermain di balik batu bertanya padaku sambil menatapku dengan rasa iba.

“Iya, aku akan selalu datang untuk memenuhi janjiku.” jawabku lirih.

“Hai Upiiik….betapa sabarnya dirimu, setiap awal bulan engkau datang ke sini, menanti kapal yang berlabuh dan berharap orang yang kamu tunggu akan keluar dari kapal dan berjalan kearahmu dengan penuh kerinduan.”

“Apa yang engkau dapatkan? hanya kekecewaan yang dibalut dengan senyum hambar dan guratan wajah kesedihan sebagai oleh-oleh untuk kamu bawa pulang.”

“Iya, walau aku kecewa berlapis-berlapis dan hatiku terasa teriris aku tidak akan bosan menanti dan tetap datang ke sini setiap awal bulan sambil terus berdo’a dan berharap semoga kali ini kebahagiaan berpihak padaku.”

“Aku salut padamu Upik. Pada ketegaran hatimu yang setia dan teguh memegang janji.Betapa beruntungnya pria yang telah berhasil menggenggam hatimu.”

Aku masih duduk sendiri di pantai ini menatap sepi. Setia menanti kekasih hati yang tak kunjung kembali. Kubiarkan lelahku bergelayut pada tubuh kurus yang kian hitam karena terbakar cahaya matahari. Takku hiraukan perutku yang tak berhenti berdendang nyanyikan lagu keroncong.

Burung camar beterbangan hilir mudik menari-menari di depanku, seolah menertawakan kebodohanku yang selalu menunggu dirimu yang tak kunjung kembali.

“Sudahlah Upik, apa lagi yang engkau tunggu. Dia sudah pergi dan tak akan kembali. Masih banyak pria lain yang bersedia meminangmu.”

Biarlah alam sekitar berucap sesukanya, aku tetap pada pendirianku, memegang teguh janji suci yang telah diikrarkan. Aku akan selalu datang ke sini menepati janjiku menunggumu di pantai ini.

“Dik, tunggu aku ya, aku akan kembali lagi awal bulan tahun depan. Do’akan bisnisku lancar ya. Aku akan membawakanmu sebongkah berlian dan melamarmu dengan segenap cintaku untuk menyempurnakan kebahagian kita.” terngiang kembali ucapannya saat mau pergi dulu.

“Di manakah Engkau Tuan? Sudah 48 purnama berlalu dari 12 purnama yang kamu janjikan. Sudah kurus kering tubuhku menahan hati bertahun-tahun menanti. Sudah lupakah engkau pada janjimu untuk segera kembali ke pangkuanku?”

“Cincin di jari manisku terus menangis, meraung dan menyentak-nyentak ditinggalkan tuannya. Baju kurung pemberianmu di saat tunangan sudah lusuh kupakai untuk menantimu di sini setiap awal bulan.”

Malam kian temaram. Deburan ombak yang menyapa pantai serta tiupan angin lembut yang membelai wajahku telah memberi kabar kalau hari ini kamu tidak kembali.

Aku melangkah dengan gontai meninggalkan pantai, dan akan kembali awal bulan depan.

Siluet senja sudah memudar. Sang mentari perlahan tenggelam di pelukan malam. Hatiku kian suram memendam kerinduan yang dalam. Oh Tuan, kenapa bayanganmu semakin sulit kugenggam?